Instalasi Drip Irigasi Sederhana pada Sistem Greenhouse

irigasi tetes

Instalasi Drip Irigasi – Budidaya tanaman hidroponik umumnya dikenal dekat dengan konsep pertanian rumah-hijau (greenhouse farming), dan memang salah satu persyaratan utama dalam pengembangan konsep semacam itu tidak lepas dari kewajiban untuk memiliki greenhouse.Namun perlu diingat bahwa konsep greenhouse tidak melulu merujuk pada bangunan permanen. Pertanian rumah-hijau pun bahkan bisa dibangun di area bangunan semi-permanen. Yang penting adalah bangunan tersebut bisa melindungi tanaman hidroponik dari serangan penyakit maupun hama, sekaligus bisa melindungi tanaman dari siraman air hujan langsung. Meski terdengar sederhana secara konseptual, namun orang yang ingin mengembangkan sistem pertanian greenhouse mesti memahami beberapa karakteristik penting terkait dengan pertanian model tersebut.

Konsep greenhouse seringkali digunakan di berbagai produksi pertanian yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menanam berbagai jenis bunga dan sayuran. Instalasi kaca atau plastik, pendingin, pemanas, pengaturan cahaya, dan lain sebagainya, dibangun di dalamnya dan dikontrol dengan komputer guna mengoptimalkan kondisi supaya tanaman bisa tumbuh dengan semestinya.

Greenhouse dan Sistem Irigasi Tetes

Dalam sistem pertanian yang mengandalkan greenhouse, pemilik bangunan bisa membudidayakan banyak tanaman seperti tomat, cabe, kangkung, sawi, dan jenis-jenis tanaman lain yang kerap digunakan untuk memasak. Meski terdengar bisa diaplikasikan dengan mudah, model pertanian greenhouse tetap memerlukan sistem irigasi/pengairan yang sesuai dengan jenis tanaman yang ingin dibudidayakan.

Setidaknya ada beberapa model sistem pertanian hidroponik yang bisa diterapkan untuk pertanian dengan konsep greenhouse:

1) Sistem Aeroponik

Ini merujuk pada sistem penanaman dimana akar tanaman tetap berada di luar ruangan, di dalam sebuah kontainer yang tetap disimpan di tempat gelap. Nutrisi untuk tanaman diaplikan dengan menggunakan aerosol mist. Sistem semacam ini biasanya diterapkan untuk berbagai jenis tanaman yang membutuhkan kontrol tinggi seperti merica, tomat, cucurbits, dan strawberry.

2) Sistem hidroponik substrat

Dalam sistem ini, sistem pengairan seperti irigasi tetes, eksudasi, maupun subirrigation kerap dipakai untuk menumbuhkan tanaman yang bersifat substrat seperti gambut, sabut kelapa, rockwool, maupun perlit. Dan umumnya sistem ini melibatkan tanaman yang ditumbuhkan di permukaan tertentu, di dalam saluran atau wadah individu, atau di dalam kantung khusus.

3) Sistem hidroponik di dalam media cair

Sistem macam ini tidak mengandalkan substrat untuk mengembangkan tanaman, melainkan langsung diproduksi lewat bantalan air untuk keperluan menumbuhkan tanaman dengan sistem pengairan NFT, NGS, maupun floating shelves.

Yang ingin dibicarakan di sini adalah sistem irigasi tetes, yang biasanya cocok untuk mengembangkan beberapa jenis tanaman seperti cabe, paprika, tomat, melon, serta beberapa jenis tanaman lain. Pendek kata, sistem irigasi tetes biasanya lebih cocok untuk budidaya buah-buahan serta sayuran dalam konsep greenhouse.

Instalasi Drip Irigasi

Sistem pengairan jenis ini biasanya berhubungan dengan bagaimana penanam memberikan air dengan cara meneteskan bulir-bulir air secara perlahan, namun terus menerus. Air diberikan kepada tanaman secara langsung baik di bawah permukaan maupun di atas permukaan media tanam. Penghematan air merupakan ide dasar dari sistem drip irigasi, sehingga mampu meningkatkan efektifitas serta efisiensi pemberian bahan kimia dan pupul. Selain itu sistem irigasi semacam ini mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman dan meningkatkan nilai guna air.

Pada dasarnya sistem drip irigasi merujuk pada penggunaan air yang langsung dialirkan ke berbagai jenis tanaman yang ditanam sesuai dengan kebutuhan. Pemakaian sistem semacam ini terbukti mampu menyuburkan tanaman di daerah pertanian yang kering. Pompa air dan pembuatan jalur pipa distribusi air, yang bakal mengalirkan air ke tanaman, menjadi prinsip dasar dari irigasi tetes. Waktu penyiraman tergantung dengan sistem yang dibuat, namun biasanya dilakukan sebanyak dua kali, yakni pada petang dan pagi selama 10 menit. Bila sistem irigasi lain menerapkan prinsip air bertekanan tinggi, tidak demikian halnya dengan sistem irigasi tetes. Air dibuang secara lambat, mulai dari tetes demi tetes, namun menyebar akurat sampai ke bagian akar tanaman.

Dengan kata lain, sistem irigasi macam ini mampu memberikan kemudahan operasional di lapangan, menghemat tenaga kerja, sekaligus menekan pertumbuhan gulma. Akan tetapi meski terlihat menjanjikan, ada sejumlah kekurangan penting dari sistem irigasi tetes, yakni membutuhkan teknik serta investasi berbiaya tinggi, membatasi pertumbuhan tanaman, serta menumpuk garam. Lebih jauh lagi, sistem irigasi tetes memerlukan perawatan intensif.

Meski tergolong sistem irigasi dengan investasi berbiaya tinggi, irigasi tetes masih lebih murah dibandingkan dengan sistem irigasi dengan alat pemancar air konvensional. Irigasi tetes lebih mudah dipasang, lebih murah dibandingkan sistem konvensional, serta hadir dengan desain yang sederhana.

Lalu bagaimana membangun sistem irigasi tetes dengan benar? Pertama-tama, orang bisa mulai dari desain sistem irigasi:

1) Mendesain dan Merencanakan Sistem Irigasi Tetes

Ketika mendesain sistem irigasi tetes, hal pertama yang mesti diperhatikan adalah seberapa besar area tanam yang ingin diairi. Buatlah daftar yang menunjuk lokasi tanaman di bidang area tertentu. Bila area tanam memiliki luas sekitar 10×10 meter, misalnya, maka tandailah titik-titik tertentu di mana Anda menanam tanaman tertentu.

Setelah melakukannya, pisahkan masing-masing tanaman ke dalam grup-grup tertentu yang membutuhkan air dalam jumlah yang sama maupun tanaman yang berada di bawah sinar matahari langsung maupun yang berada di area yang lebih sejuk.

instalasi drip irigasi sederhana pada greenhouse
Gambar 1 – Contoh rancangan irigasi tetes. (sumber gambar: www.sprinklertalk.com)

Perhatikan juga media tanam. Media tanam adalah ruang di mana nutrisi tanaman disimpan, dan merupakan ruang di mana nutrisi dan air bergerak. Dalam hal ini media tanam ini adalah tanah yang merupakan ruang di mana tanaman berdiri dan akar akan merambat. Mendeteksi tipe tanah dengan benar menjadi langkah berikutnya yang harus dicermati betul. Ada banyak variasi tipe tanah dimana masing-masing memiliki karakteristik berbeda, dan ini pada gilirannya bakal menentukan tipe penyiram maupun penetes yang dibutuhkan. Guna mendeteksi tipe tanah yang tersedia, cobalah ambil segenggam tanah kemudian gesek-gesekan di atas permukaan telapak tangan, dan lepaskan. Dari sini bisa ditentukan tipe tanah yang dimiliki.

• Tanah berpasir

Tanah berpasir mudah hancur dan jatuh ketika dilepaskan. Air cenderung lebih mudah turun ke bawah pada tipe tanah ini. Karena itu gunakan tipe penetes 2GPH 10-12 inch terpisah atau gunakan penyiram tipe mikro pada konfigurasi area yang lebih luas.

• Tanah liat

Tipe tanah ini lebih mudah menyatu namun juga lebih mudah terpecah. Air akan bergerak perlahan-lahan dan akan menyebar rata. Gunakan penetes 1GPH dengan 16-18 inch terpisah.

• Tanah liat tipe 2

Tanah liat tipe ini biasanya mengandung clay dan tidak mudah pecah. Air pun akan diserap perlahan-lahan. Gunakan penetes 0.5GPH atau 1GPH dengan ukuran 18-24 inch terpisah.

2) Memilih metode untuk memulai

Memilih dan menentukan bagaimana memulai sebuah sistem irigasi tetes dan produk mana yang patut dipilih menjadi hal yang penting. Dan ini harus dilakukan dengan hati-hati. Setidaknya ada tiga faktor yang perlu diperhitungkan terlebih dahulu, yakni luas area tanam, ketersediaan sumber air, desain taman dan tipe tanaman yang akan diairi. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, ada tiga metode pengairan yang bisa diterapkan:

• Metode pertama: faucet connection

instalasi irigasi tetes sederhana greenhouse
Gambar 2 – Alat penetes dengan sistem timer. Sumber gambar: www.sprinklertalk.com

Salah satu cara paling mudah untuk memasang alat penetes di bawah permukaan tanah adalah memulainya dengan sebuah keran yang dipasang bersama dengan ½ pipa poli ½ inch sebagai gurat rusuk utama. Atur supaya air bisa memancar dari keran secara otomatis, menggunakan pengatur waktu. Alat pengatur waktu bisa dipasang pada bagidan keran dan pipa poli (pipa paralon), dengan menghubungkannya pada swivel adapter.

instalasi irigasi tetes sederhana pada greenhouse
Gambar 3 – alat penetes tanpa timer. Sumber gambar: www.sprinklertalk.com

• Metode kedua: menghubungkan dengan katup irigasi

Metode selanjutnya adalah menghubungkan aplikasi tetes dengan katup anti-siphon yang dipasang di atas maupun di bawah permukaan tanah. Katup anti-siphon merupakan alat yang berfungsi sebagai pencegah arus balik air. Sebuah katup in-line memerlukan alat pencegah semacam itu.

instalasi irigasi tetes sederhana greenhouse
Gambar 4 – Instalasi in-line menggunakan sebuah pengatur tekanan, mesh filter, riser berukuran ½ inch dan adapter tee. Sumber gambar: www.sprinklertalk.com

• Metode ketiga: membangun sistem alat penyiram

Pada dasarnya yang dibutuhkan adalah siku untuk mengkonversi, pengatur tekanan dan adaptor putar untuk mencocokan kepala alat penyiram berukuran ½ inch langsung ke tabung poli.

instalasi irigasi tetes sederhana greenhouse
Gambar 5 – sistem alat penyiram sederhana.
Sumber gambar: www.sprinklertalk.com

3) Mengatur distribusi air

Sampai di sini sudah ditemukan metode untuk menhubungkan aplikasi/alat-alat irigasi tetes dengan sumber air, dan sekarang adalah waktunya untuk mengambil selang dan meletakannya di jalur tertentu supaya air bisa menghidupi tanaman yang dipilih. Ada beberapa langkah mudah untuk mengatur distribusi air:

• Metode 1: Tarik selang keluar

Setelah menghubungkan selang dengan sumber air, sekarang waktunya untuk menarik selang keluar. Selain selang, pemilik taman/kebun juga bisa menggunakan drip line maupun pipa poli. Posisikan selang berdasarkan lajur tertentu di area taman. Contoh cara penempatan selang bisa dilihat di bawah ini:

instalasi irigasi tetes sederhana greenhouse
Gambar 6 contoh layout sistem irigasi. Sumber gambar: www.sprinklertalk.com

• Metode 2: Potong selang sampai panjangnya sesuai

Setelah menarik selang keluar dan meletakannya dalam lajur yang sesuai, sekarang saatnya untuk memeriksa alur selang supaya sudah sesuai dengan yang diinginkan. Pastikan juga panjang selang supaya pas.

• Metode 3: Buat lubang kecil

Lubang kecil bisa dibuat di atas permukaan selang, pipa poli, maupun drip line. Gunakan alat tertentu (biasanya punch tool) guna membuat lubang pada selang berukuran ½ inch. Lubang biasa dibuat di manapun, dan umumnya digunakan untuk menempatkan sebuah emitter. Alat ini pada gilirananya digunakan untuk menghubungkan pipa distribusi air. Namun jika membuat kesalahan, misalnya bila pemilik melubangi pipa di tempat yang salah, lubang bisa ditutup menggunakan sebuah goof plug. Gunakan sebuah pipa stakes berukuran ½ inch guna memperkuat pipa ½ inch di tanah. Kemudian gunakan fitting berukuran ¼ inch untuk mengancing lubang yang telah dibuat pada pipa ½ inch, dan hubungkan dengan pipa distribusi air berukuran ¼ inch. Tipe koneksi air semacam ini bisa digunakan untuk menjangkau tanaman yang ada di area greenhouse.

instalasi irigasi tetes sederhana greenhouse
Gambar 7 Membuat lubang pada selang/drip line.
Sumber gambar: www.sprinklertalk.com

 

instalasi irigasi tetes sederhana greenhouse
Gambar 8 – Pemasangan pasak (stakes) untuk menempatkan pipa di atas tanah.
Sumber gambar: www.sprinklertalk.com

 

instalasi irigasi tetes sederhana greenhouse
Gambar 9 pemasangan goof plug bila terjadi kesalahan lubang.
Sumber gambar: www.sprinklertalk.com

 

instalasi irigasi tetes sederhana greenhouse
Gambar 10 – pemasangan emitter.
Sumber gambar: www.sprinklertalk.com

 

instalasi irigasi tetes sederhana greenhouse
Gambar 11 – gunakan barbed fittings ¼ inch, pipa distribusi ¼ inch, dan emitter untuk mengalirkan air ke tanaman.
Sumber gambar: www.sprinklertalk.com

 

instalasi irigasi tetes sederhana greenhouse
Gambar 12 – gunakan Hose End ½ inch guna menghentikan aliran air di ujung selang/pipa.
Sumber gambar: www.sprinklertalk.com

4) Mengairi area taman

Mengairi area taman bisa dilakukan dengan segera setelah alat untuk sistem pengairan dipersiapkan. Ada beberapa macam kemungkinan layout sistem pengairan yang bisa diaplikasikan dengan mudah. Berikut beberapa contoh di mana salah satunya mungkin bisa diterapkan di kebun milik Anda.

• Bila taman Anda diisi dengan pepohonan, semak belukar, dan bunga-bungaan

Setelah menghubungkan sistem dengan sumber air, gunakan pipa ½ inch dan kencangkan dengan pasak berbahan pipa berukuran ½ inch. Bila terdapat pepohonan maupun semak yang sulit dijangkau, hubungkan pipa distribusi ¼ inch dengan selang ½ inch, menggunakan fitting barb berukuran ¼ inch. Gunakan dan tempatkan drip line berukuran ¼ inch di sekeliling pohon. Kemudian hubungkan drip line dengan selang ½ inch menggunakan barbed tee berukuran ¼ inch. Terakhir, gunakan Jet Sprays atau Microsprinkler pada paku/pasak (stakes) berukuran 12 inch, dan tancapkan alat tersebut di bagian tanah atau bunga.

instalasi irigasi tetes sederhana greenhouse
Gambar 13 – Contoh layout irigasi tetes.
Sumber gambar: www.sprinklertalk.com

• Bila taman diisi dengan sayur-sayuran dan bunga-bungaan

Setelah menghubungkan sistem dengan sumber air, tarik drip line berukuran 1.2 inch dalam baris tertentu. Beri jarak satu dan lainnya, sekitar 12 inch. Gunakan siku Nut Lock berukuran ½ inch dan juga tees untuk menghubungkan bagian-bagian selang di beberapa sudut tertentu. Kemudian gunakan pasak (stakes) berbentuk pipa atau besi berukuran ½ inch, guna menancapkan drip line di atas tanah.

instalasi irigasi tetes sederhana greenhouse
Gambar 14 Contoh pemasangan sistem irigasi tetes.
Sumber gambar: www.sprinklertalk.com

 

instalasi drip irigasi sederhana pada greenhouse
Gambar 15 – Contoh pemasangan sistem irigasi tetes.
Sumber gambar: www.sprinklertalk.com

Kesimpulan Final

Tidak semua wilayah memiliki tingkat kesuburan yang sama dan bisa menikmati banyak hujan, karenanya dibutuhkan sistem irigasi yang tepat untuk mengatasi masalah kekeringan. Di titik ini, sistem irigasi tetes setidaknya mampu memberikan solusi tepat untuk lahan-lahan yang berdiri di daerah kering semisal gurun.

Lebih jauh lagi, pada sistem pertanian di negara maju, sistem irigasi tetes seringkali diterapkan untuk menopang konsep pertanian berjajar, di mana sayur-sayuran dan buah-buahan menjadi komoditi utamanya. Untuk model greenhouse, sistem irigasi semacam itu juga cocok diterapkan guna mensiasati ketersediaan pasokan air dalam jumlah yang cukup. Dengan berbagai macam kelebihan yang dimilikinya, siapapun kini bisa membangun sistem pertanian tanpa harus bersusah payah memikirkan ketersediaan sistem pengairan yang pas.

Dengan demikian, sistem instalasi drip irigasi tampak dirancang khusus dan memiliki kecocokan untuk pertanian yang mengandalkan komoditas seperti tanaman keras, sayuran, bunga-bungaan, tumbuhan di dak, patio, greenhouse, dan juga buah-buahan. Pada zaman ketika bertani tidak membutuhkan lahan yang besar, seperti pada konsep greenhouse, misalnya, sistem irigasi tetes menjadi satu yang perlu dipertimbangkan dengan seksama. Sistem pengairan yang efisien dan tepat tentu saja sangat dibutuhkan dan sistem seperti irigasi tetes merupakan satu sistem yang bisa dengan cepat dirakit.

Dibandingkan dengan sistem pertanian yang mengandalkan sprinkle, yang lebih boros air, sistem irigasi tetes menjadi buah manis yang siap digunakan oleh siapa saja yang menginginkan kesuburan pada lahan pertanian hidroponiknya.

Demikian pembahasan tentang instalasi drip irigasi, semoga bermanfaat. Salam Agritani!

3 Comments

Leave a Response