Cara Budidaya Jamur Tiram untuk Hasil Maksimal

Budidaya jamur tiram sangat cocok dikembangkan di daerah tropis seperti Indonesia. Di alam bebas, jamur ini tumbuh di hutan dan biasanya tumbuh berkembang di bawah pohon berdaun lebar atau dibawah tanaman berkayu. Hal ini bisa dijadikan patokan dalam melakukan budidaya jamur tiram dimana Jamur Pleurotus ini tidak memerlukan cahaya matahari yang banyak. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa miselium yang disimpan di tempat yang redup, jumlahnya lebih banyak dibanding di temapat yang terang dari cahaya matahari yang penuh.

Miselium (jamak: Miselia) adalah bagian Jamur Multiseluler yang dibentuk oleh kumpulan beberapa Hifa. Sebagian Miselium berfungsi sebagai penyerap makanan dari Organisme lain atau sisa-sisa organisme. Miselium yang menyerap makanan di sebut Miselium vegetatif.

Selengkapnya, mari perhatikan hal-hal berikut.

Syarat Tumbuh Budidaya Jamur Tiram

1.    Temperature

Budidaya jamur tiram putih dapat tumbuh dengan baik pada suhu antara 23-28 °C, atau berada pada suhu normal.  Pada suhu di bawah 23°C jamur ini masih dapat tumbuh walaupun akan melambat.
Sedangkan untuk pertumbuhan tubuh buahnya yang bentuk seperti cangkang tiram, memerlukan kisaran suhu antara 13-15 °C selama 2 sampai 3 hari.

2.    Kelembapan

Dalam budidaya jamur tiram, kelembaban udara merupakan faktor penting. Jamur dapat tumbuh dengan baik dalam keadaan lembab, namun tidak menghendaki genangan air.

Terlalu sedikit air akan mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan akan terganggu, bahkan terhenti sama sekali. Namun, apabila terlalu banyak air, miselium akan membusuk dan mati.

Miselium jamur tiram tumbuh optimal pada subtract yang memiliki kandungan air sekitar 60%. Sedangkan untuk merangsang pertumbuhan tunas dan tubuh buah, memerlukan kelembapan udara sekitar 70-85%.

3.    Cahaya

Budidaya jamur tiram memerlukan cahaya dengan sifat menyebar_mungkin bisa memanfaatkan pohon sekitar bangunan sebagai peneduh.

Miselium jamur tiram putih akan tumbuh optimal dalam gelap. Namun sebaliknya, buah jamur tidak bisa tumbuh dalam gelap. Cahaya diperlukan untuk merangsang pertumbuhan buah.

4.    Udara

Oksigen dibutuhkan jamur tiram putih sebagai senyawa untuk pertumbuhannya. Oksigen yang terbatas dapat mengganggu pertumbuhan tubuh buah, menjadi kecil, abnormal, akan mudah layu dan mati. Oleh karena itu budidaya jamur tiram memerlukan sirkulasi udara yang baik.

Untuk perbandingannya, pertumbuhan mielium jamur memerlukan kandongan karbon dioksida dengan kadar 15% – 20% yang memang tergolong tinggi. Namun jika melebihi kadar ini, tubuh buah beresiko tumbuh abnormal.

5.    Derajat Keasaman (pH)

Miselium jamur tiram putih tumbuh optimal pada pH media yang sedikit asam, yaitu antara 5,0-6,5. Nilai pH medium diperlukan untuk produksi metabolism dari jamur tiram putih, seperti produksi asam organic.

Media Tanam

Media tumbuh budidaya jamur tiram adalah berupa kayu tiruan (log) yang dibuat dalam bentuk silinder. Komposisi media ini terdiri dari

  • sumber kayu (gergaji kayu, ampas tebu),
  • sumber gula (tepung-tepungan),
  • kapur,
  • pupuk P, dan
  • air.

1.    Nutrisi

Dengan nutrisi yang cukup, pertumbuhan pasti akan optimal. Berikut unsur-unsur pupuk yang diperlukan.

  • Unsur karbon diperlukan untuk pembentukan protoplasma, juga diperlukan sebagai sumber energi.
  • Nitrogen dibutuhkan untuk pembentukan asam nukleat.
  • Protein dan kitin diperlukan untuk pembentukan dinding sel jamur.

2.    Kehadiran Mikroorganisme lain

Media tempat tumbuh merupakan sumber makanan utama bagi jamur tiram. Kehadiran mikroorganisme lain pada media tumbuh dapat menyebabkan persaingan nutrisi,  dan bahkan menjadi racun bagi jamur.

Untuk itu, sterilisasi media tanam perlu dilakukan dengan membebaskan media dari jasad asing yang tidak diharapkan.

Ketinggian Tempat

Kondisi sempurna seperti pada uraian di atas lebih mudah dicapai pada daerah dataran tinggi sekitar 700-800 m dpl. Budidaya jamur tiram pada dataran rendah bisa saja, asalkan kondisi dan syarat tumbuh dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan jamur.

Pembibitan

Gunakan bibit F3. Bibit ini dapat dibuat ataupun didapat dari petani jamur. Jika Anda ingin membuat sendiri diperlukan alat-alat berikut yang sudah disterilkan dari kontaminasi. (Sterilisasi pembuatan bibit dapat menggunakan laminar flow atau transfer box).

1. Alat dan Bahan

Alat-alat yang diperlukan adalah sebagai berikut:

•    Kompor minyak tanah
•    Drum berdiameter 80 cm, tinggi 96 cm
•    Rak, dengan luas 3m²
•    pH meter
•    Thermometer
•    Sprayer / penyemprot, dengan pipa paralon 2 inci sebanyak 300 buah
•    Cincin
•    Lampu spirtus, dengan volume 30 liter
•    Baskom plastic
•    Sekpo
•    Serbuk kayu albasia sebanyak 10,5 kg
•    Dedak halus sebanyak 21 kg
•    Tepung jagung sebanyak 0,6 kg
•    TSP murni 1 kg
•    Kapur 3 buah
•    Bibit jamur F3 sebanyak 3 buah
•    Alcohol 95% sebanyak 1 liter
•    Kantung plastic transparan (20x35x0,5)  cm sebanyak 300 buah
•    Kertas roti 10 x 10 sebanyak 300 buah
•    Karet gelang tahan panas 600 buah
•    Air sumur 30 liter

2. Pembuatan bibit jamur tiram

Proses pembuatan jamur tiram adalah sebagai berikut.

1. Serbuk gergaji dibersihkan. Bagian yang besar dan tajam dibuang karena dapat merusak plastik substrat.

2. Campur bahan-bahan berikut dengan diaduk merata dan jangan sampai ada gumpalan-gumpalan. Adapun bahan tersebut yang dicampurkan untuk menghasilkan 100 log adalah sebagai berikut :
•    Serbuk gergaji atau ampas tebu halus: 10,5 kg
•    Tepung jagung: 0,6 kg
•    Dedak halus: 21 kg
•    TSP: 1 kg
•    Kapur: 3 buah
Beri air secukupnya, dengan kandungan air 60% dan pH terukur.

3. Masukkan campuran bahan tersebut ke dalam plastik transparan dengan ukuran 20 x 35 cm dan tebal 0,5. Isi padat dengan ditumbuk memakai balok atau botol. Pengisian dilakukan tidak perlu sampai penuh, sisakan 15 cm untuk memudahkan dalam mengikat.

4. Tiap log sebaiknya diatur memiliki berat 1,2 kg.

5. Sisa ujung plastik ditutup dengan ring plastik atau bambu, kemudian ujung plastik yang masih tersisa dilipat keluar ring plastik. Tutup ring dengan karet.

6. Lakukan pengukusan terhadap log media selama 12 jam.

7. Lamanya pengukusan dihitung setelah air di dalam drum mendidih.

8. Setelah selesai pengukusan, media di angkat dari drum. Lalu, biarkan selama 8 jam atau sampai dingin pada ruangan yang tertutup. Untuk selanjutnya, dilakukan penanaman bibit.

9. Setelah media dingin, baru dilakukan penanaman bibit, caranya:

  • Penanaman bibit dilakuan di ruangan tertutup
  • Semprot isi ruangan dengan alcohol 95%
  • Gunakan sarung sarung tangan dan semprot dengan alcohol 95%
  • Untuk memudahkan penanaman bibit, media yang akan diinokulasi disimpan di depan dekat tangan kiri. Bibit yang akan ditanamkan disimpan di depan dekat tangan kanan. Antara media yang akan ditanami dan bibit, disimpan lampu spirtus.
  • Buka karet, kertas penutup, serta kapas penutup media.
  • Masukkan 3 sendok makan bibit untuk satu log media.
  • Setiap gerakan sendok yang dipakai, dipanaskan dengan api dari lampu spirtus.
  • Media yang sudah ditanami bibit tersebut ditutup kembali dengan kapas.
  • Penanaman bibit dikerjakan dengan cepat, tetapi harus teliti.

10. Media yang sudah ditanami bibit disimpan di atas rak.

12. Biarkan sampai seluruh media diisi miselium jamur.

13. Miselium tumbuh memenuhi log media. Setelah seluruh log media ditumbuhi miselium, tutup karet dan cincin pada bagian atas log tersebut dibuka.

14. Kelembapan lingkungan dipertahankan dengan menyemprot menggunakan sprayer.

15. Tubuh buah yang sudah cukup mekar dapat dipanen.

Penyimpanan Log

budidaya jamur tiram
budidaya jamur tiram. image: liputan6.com

Tempat pemeliharaan jamur dibuat dengan ukuran 10 x 12 m² yang di dalamnya terdapat 8 buah petak pemeliharaan berukuran 5,7 x 2,15 m². Jarak antara petak 40-60 cm. Di dalam setiap petakan dibuat rak-rak yang tersusun ke atas untuk menyimpan 1.300-1.400 log. Rangka bangunan dapat dibuat dari besi, kayu atau bambu.
Log disimpan di atas rak dengan posisi tegak atau miring. Jarak penyimpanan diatur sedemikian rupa sehingga tubuh buah yang tumbuh dari log tidak tumpang tindih dengan tubuh buah yang lain.

Masa Panen

•    Ciri dan Umur Panen
Panen dapat dilakukan setelah tubuh buah mencapai ukuran maksimal saat 2-3 hari setelah tumbuh bakal tubuh buah.

jamur tiram siap panen
jamur tiram siap panen. image: kompasian.com

•    Cara Panen
Pengambilan jamur harus dilakukan dari pangkal batang karena batang yang tersisa dapat mengalami kebusukan. Potong jamur dengan pisau yang bersih dan tajam, kemudian simpan di wadah plastik dengan tumpukan setinggi 15 cm.

•    Periode Panen
Panen dilakukan setiap hari atau beberapa hari sekali, tergantung dari jarak pembukaan log-log. Untuk satu log akan dihasilkan sekitar 0,8-1 kg jamur.

Demikian panduan lengkap budidaya jamur tiram, semoga bermanfaat. Salam Agritani.

Daftar pustaka: www.pekalongankab.go.id

share on:

Leave a Response